EN / ID

Melawan Stempel Buruk Mengkonsumsi Ganja

05 September 2017

Article of "End War" exhibition
Writer: Raihul Fadjri

Pelukis Tommy Tanggara melawan perang terhadap ganja lewat warna-warna yang menyenangkan mata.

GANJA (Cannabis sativa) sebagai benda yang sejak lama diberi label narkotika dan mesti dijauhi kini mulai memasuki medan perdebatan berbeda ketika muncul gerakan yang mendesak legalisasi ganja yang kini merebak di Amerika Serikat. Isu ganja tak lagi sekadar tanaman yang mengandung bahan psikotropika yang bersifat negatif, sebaliknya muncul argumen bahwa ganja punya manfaat positif bagi tubuh manusia.

Adalah Tommy Tanggara, 48 tahun, yang mengkampanyekan perlawanan terhadap larangan pemanfaatan ganja lewat media pameran lukisan di ruang pamer Redbase Foundation Yogyakarta. Belasan karya lukis berukuran mini yang bercorak posteristik dan enam karya lukis berukuran sedang yang mengeksplorasi bentuk artistik pohon ganja menghias dinding galeri.

Galeri:

Lewat rentetan karya mini itu Tommy berkisah tentang proses pengkonsumsian ganja, dari bentuk dua tangan melinting kertas yang berisi daun ganja (Practise Your Finger, 2017), hingga tangan memegang rokok ganja dengan asap  mengepul siap disedot (Try This One, 2017). Fase persiapan ini dia lukiskan di atas kanvas dengan warna-warna primer.

Atau cerita ketika pengguna ganja berurusan dengan aparat hukum. Dari potret lelaki tersenyum bahagia dengan bentuk daun ganja beterbangan di atas kepalanya (Rainy Day, 2017), kaki berbalut sepatu lars menginjak kepala (Criminalization, 2017), hingga lelaki dengan tubuh terikat tali dan mata tertutup (Execution Time, 2017) dalam warna monokrom yang gelap.

Tahap eksekusi itu pula yang dialaminya, ketika dia diringkus polisi karena memiliki ganja, dan kemudian diadili di Pengadilan Negeri Yogyakarta dengan vonis delapan bulan penjara. “Tapi saya bukan criminal,” ujarnya lewat percakapan WhatsApp, 31 Agustus 2017. Tapi dia menjalani hukuman itu di pusat rehabilitasi pecandu narkoba Grasia, di Pakem, Sleman, Yogyakarta pada 2012. Tommy mengaku mulai mengkonsumsi ganja sejak 1999. “Sekarang sudah jadi mantan.”

Galeri:

Bagi Tommy, ganja bukan barang haram untuk dikonsumsi, karena punya sederet manfaat. “Ganja adalah tanaman sejuta manfaat dan tidak berbahaya dan aman untuk dikonsumsi. Bahkan, kopi dan gula yang lebih berbahaya malah dilegalkan,” katanya.

Menurut pria kelahiran Jakarta, 6 Juli 1969 ini, agar manfaat ganja dilupakan orang, maka isu narkotika disematkan pada tanaman ini. “WHO pun ikut berbohong untuk kepentingan dunia farmasi kapitalis,” ujar dia. Ganja tidak menimbulkan efek kecanduan hingga penggunanya tersiksa secara fisik (https://id.wikipedia.org/wiki/Ganja). Bahkan ganja dinilai bisa menimbulkan lonjakan kreativitas dalam berpikir serta dalam berkarya terutama bagi seniman. “Ganja dapat membuat kreatifitas dan membuka pikiran.”

Galeri:

Pandangannya ini muncul pada enam karya lukis bertajuk Aesthetic of Plant Series. Tommy mengeksplorasi bentuk pohon ganja yang tingginya bisa mencapai dua meter itu dalam corak dekoratif dengan warna yang menyenangkan mata. Seri karya ini mengesankan penonjolan aspek positif ganja. “Memusuhi pohon ganja dan bahkan memeranginya adalah tindakan sia-sia dan konyol,” katanya. Menurut dia, mestinya pemerintah menguasai pohon ganja dan mereguliasi pemanfaatannya. “Agar dapat menghasilkan devisa dan perbaikan ekonomi negara.”

Pemeran ini merupakan kali kedua Tommy menggarap tema ganja. Pameran pertama dengan judul Ganja digelar di CG Art Space pada April 2017. Dalam kampanye ini Tommy menggunakan simbol-simbol yang selama ini identik dengan ganja sebagai narkotika. Padahal dia berkeyakinan ganja, terutama bijinya juga bermanfaat untuk anak-anak. “Satu biji ganja lebih banyak dan padat kandungan nutrisinya dari pada setetes air susu ibu,” kata ayah seorang anak ini. Biji ganja mengandung Omega 3, 6, dan 9. Tapi simbol yang dominan muncul dalam pameran ini adalah lintingan rokok dengan asap yang mengepul. Bukan simbol yang menarik untuk kampanye positif ganja.

Source: www.kringkrong.com

articles


2017

2016

2015