EN / ID

Antara Alam, Mitologi, dan Kepercayaan

31 July 2017

Article of "You Are A Master at Capturing My Desire And Affection" A.I.R Exhibition
Writer: Anes Wahyu Novianto

TIGA bulan residensinya di Redbase Foundation, Yogyakarta, akhirnya berbuah. Marta Weglinska, seniman wanita asal Polandia, berhasil menciptakan beberapa karya yang berasal dari kebudayaan Indonesia. Lahir dari perpaduan antara mitologi, kepercayaan tarian tradisional, dan naskah kuno, ia kemudian mencoba membuat semacam narasi dalam wujud multimedia.

Meski terlihat sederhana, benang merah visualnya bisa dikatakan rumit. Marta mengaku karyanya ini berdasarkan penelitian berbagai aspek kehidupan pada masa sekarang dan masa kuno di Indonesia—yang kebanyakan di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Topiknya sendiri terinspirasi dari aspek realitas Indonesia yang berbeda. Mulai dari pemahaman simbolis tentang alam, mitologi, dan kepercayaan (Dewi Sri, makna gunungan), tarian tradisional (cerita Panji), hingga kitab-kitab sastra lama, seperti Wanban WideyaCerita Panji Jawa; ArjunawiwahaPernikahan Arjuna karya Mpu Kanwa, atau Sumanasantaka karya Mpu Monaguna.

Tak cuma itu, Marta yang sudah sering menggelar pameran solo maupun grup dan festival di berbagai negara juga mencuil referensi dari arsitektur kuno di Indonesia. Dari situlah ia mendapatkan sudut pandang dan kemudian bercerita mengenai persatuan abadi dan universal antara dua dewa tertinggi, wanita, dan pria.

Pameran bertajuk “You Are a Master at Capturing My Desire and Affection” yang digelar di Redbase Foundation, Bantul Yogyakarta, pada 8–22 Juli pun seakan jadi ajang pembuktian Marta. Pameran seniman residensi yang keenam itu dibuat menjadi beberapa bagian dengan karakteristik masing-masing. Ada pendekatan metafor yang berbeda pada setiap topiknya, namun tetap memunculkan satu cara yang memungkinkan untuk memahami kebudayaan yang berbeda.

Pada bagian pertama yang paling penting adalah alam yang dianggap sebagai induk dari erotisme. Kehidupan dan alam diperlakukan sebagai sebuah keinginan yang tak terbatas, bertumbuh, dan representasi yang terkuat dari kesuburan. Marta juga menggunakan derasnya hujan khatulistiwa yang dikombinasikan dengan temperatur yang tinggi menunjukkan ritme alam yang cepat dan produktif.

Seniman kelahiran 16 Maret 1990 di Lubing, Polandia itu pun melihat bagaimana wilayah Yogyakarta yang dipenuhi sawah dan diperlakukan seperti panggung metafora. Di sinilah jebolan Intermedia Course (MA) di University of Arts di Poznan itu menilai Yogyakarta sebagai sebuah tempat di mana kisah mengenai persatuan universal dari dua orde yang berlawanan begitu terlihat–yang dalam hal ini merupakan laki-laki dan perempuan.

Indonesia, baginya, diamati sebagai sebuat tempat yang koeksistensi dari banyak agama, mitos dan kepercayaan. Hal itu menciptakan gambaran dari cinta, romansa, dan erotisme dalam konteks yang luas. Lihat saja beberapa karyanya. Simbol terkuat yang dihubungkan dengan pemujaan terhadap kesuburan adalah gunung berapi (Gunung Merapi) dan air (laut, cerita mengenai Ratu Pantai Selatan). Hal-hal tersebut dianggap sebagai daftar utama untuk membangun dunia. Ada lagi kuil-kuil Hindu yang dipenuhi dengan batu Lingam dan Yoni – sebuah penyataraan universal dari energi laki-laki dan perempuan.

Dari tarian tradisional, Marta mencoba menggali tarian topeng Panji tradisional—yang dipraktekkan di beberapa daerah seperti Yogyakarta dan Cirebon. Ia fokus pada topeng-topeng Panji karena kuatnya aspek sensual dari cerita cinta kuno dari Pangeran Panji dan kekasihnya, Putri Candrakirana. Kisah yang bercerita tentang sebuah perjuangan yang dipicu oleh keinginan untuk memiliki seorang wanita; dan mengenai hal terlarang, bahkan inses, dan hubungan seksual telah menarik perhatiannya.   

Selain itu, poin yang menarik mengenai tarian Panji adalah makna dari warna. Seperti diketahui, saat pertunjukan, Panji menggunakan tiga topeng berbeda untuk mempresentasikan karakter dari cerita; putih (lebih ekpresif, emosi dinamis). Warna pun berbicara. Sebut saja misalnya emas (keadaan formal, Panji sebagai pangeran, dan hubungan dengan Kraton) atau hijau (bagian dari alam, romansa, simbol kebaikan).

Nah, menariknya hubungan antara cinta dan hijau–lingkungan. Menurut cerita, Panji dan Candrakirana dikepung oleh musuh dan mereka mencoba melarikan diri menggunakan kekuatan alam, “bersembunyi di kehijauan” secara harafiah. Makna lainnya adalah ketika mereka memasuki “kehijauan”, pasangan itu mengubah tubuh (penampilan) mereka untuk menghindari bahaya, tetapi setelah transformasi mereka tidak mengenali satu sama lain.

Rupanya keseluruhan idenya memang terinspirasi dari naskah Jawa Kuno lainnya, sebagai sumber yang luas dari metafora mengenai cinta, gairah, dan keinginan. Beberapa kutipan pun terpilih dituliskan pada batik sebagai moto. Topik yang dibicarakan sering dikaitkan dengan rasa manis dari gula aren dan juga proses pelelehannya. Proses pelelehan itu sendiri dapat direfleksikan dalam penggunaan wax (lilin) pada teknik batik.

Sekali lagi, Marta banyak bekerja dengan citra, kata, dan ruang—yang memang sudah menjadi cirinya. Teknik yang digunakan sangat beragam dan terkadang di luar batas. Karya yang dihasilkan berupa film, buku seni, patung, instalasi, lukisan dan foto. Ia juga menulis dan membantu beberapa pameran sebagai kurator dan salah satu founder dari Silverado Gallery sejak 2013. Nah, kali ini, ia mengeksplorasi Indonesia.

Source: www.sindoweekly.com

articles


2017

2016

2015